Powered By Blogger

Rabu, 31 Maret 2010

Bintang Yang Super Cepat Ternyata Bukan Anggota Bima Sakti

Bintang deret utama kelas B umumnya langka dijumpai berada jauh dari bidang Galaksi. Bintang-bintang ini diyakini sebagai “bintang pelarian” yang terlontar dari bidang Galaksi usai terbentuk. Bintang B yang kecepatannya melampaui kecepatan-lepas Galaksi belum pernah dijumpai, hingga pada tahun 2005 dilaporkan bintang dengan kecepatan yang sangat tinggi (hyper velocity star atau HVS), yakni bintang SDSS J090745.0+024507. Bintang HVS pertama ini oleh penemunya, Brown, diperkirakan terlempar dari pusat Galaksi Bima Sakti, galaksi yang kita huni.

Bintang HVS kedua adalah HE 0437-5439 yang dilaporkan oleh Edelmann dan kawan-kawan pada tahun yang sama. Meskipun demikian, fenomena HVS ini masih mengundang pertanyaan: dari manakah asal-usulnya? Menurut prediksi yang dikemukakan Hill, kecepatan setinggi 4000 km per detik bisa diraih ketika suatu bintang ganda terganggu saat berinteraksi dengan lubang hitam yang masif di pusat Galaksi. Yu dan Tremaine mengemukakan dua proses tambahan yang melontarkan HVS selain runtuhnya gaya pasang-surut bintang ganda akibat gangguan lubang hitam. Kedua proses tersebut adalah hampir bersinggungannya dua bintang tunggal dan interaksi tiga-benda antara sebuah bintang dan sepasang lubang hitam.

Visualisasi sebuah bintang terlontar dari Awan Magellan Besar (Large Magellanic Cloud atau LMC) - sumber: ESO
Visualisasi sebuah bintang terlontar dari Awan Magellan Besar (Large Magellanic Cloud atau LMC) - sumber: ESO

Nah, rupanya para peneliti sudah menyibak misteri asal HVS ini. Dalam laporan yang akan segera dipublikasikan oleh Astrophysical Journal Letters astronom Carnegie Institution, Alceste Bonanos dan Mercedes López-Morales, beserta rekan mereka dari Queen’s University Belfast, Ian Hunter dan Robert Ryan, menyimpukan bahwa HE 0437-5439 berasal dari galaksi Awan Magellan Besar (Large Magellanic Cloud atau LMC). Bintang tersebut dilontarkan oleh galaksi tetangga kita ini. Kesimpulan ini diperoleh setelah mengkaji kecepatan, intensitas cahaya – dan untuk pertama kalinya – komposisi kimianya, secara lebih teliti.

Dari sepuluh HVS yang ditemukan sejauh ini, HE 0437-5439 berbeda. Kelas spektrum, kelajuan, dan umur mereka konsisten dengan teori bahwa mereka dilontarkan dari pusat Galaksi. Kita tahu bahwa pusat Galaksi dihuni lubang hitam supermasif. Jika dilihat dari komposisi kimianya, bintang HE 0437-5439 juga menunjukkan bahwa bintang ini berasal dari pusat Galaksi kita. Hanya saja ini tidak masuk akal, sebab bintang tersebut mestinya memerlukan waktu 100 juta tahun untuk mencapai lokasinya yang sekarang, sementara umur HE 0437-5439 hanya 35 juta tahun.

Untuk menjelaskan paradoks umur ini, mereka berpendapat bahwa bintang ini termasuk blue straggler – bintang muda dan masif hasil merger dua bintang bermassa rendah di Galaksi kita. Kemungkinan lain adalah berasal dari LMC. Bintang-bintang di LMC diketahui memiliki kelimpahan unsur yang lebih rendah dibandingkan dengan kebanyakan bintang di Galaksi kita, sehingga kita bisa menentukan apakah suatu bintang termasuk anggota Galaksi kita atau LMC.

HE 0437-5439 bermassa sekitar 9 kali massa Matahari serta menjauhi Bima Sakti dan LMC menuju ruang antargalaksi dengan kecepatan 2.6 km per jam. Ditilik dari laju rotasinya, bintang ini berasal dari sistem bintang ganda. Pasangan bintang ganda ini mungkin pernah lewat dekat dengan lubang hitam yang massanya 1000 kali massa Matahari. Ketika salah satu bintang tertarik oleh lubang hitam, pasangannya lepas dari galaksi asalnya. Penemuan ini menjadi petunjuk pertama bahwa suatu lubang hitam masif ada di suatu tempat di LMC. Kita tunggu saja di mana lubang hitam itu rupanya berada.

Sumber:
Carnegie Institution for Science
Astrophysical Journal, vol. 634, hal. 181 (2005)

Quasar Ganda Hasil Penggabungan Galaksi

Quasar Ganda Hasil Penggabungan Galaksi

Kerjasama yang baik memang senantiasa memberikan hasil yang memuaskan. Demikian juga yang terjadi dalam pengamatan. Kerjasama tim astronom yang melakukan pengamatan pada 2 rentang panjang gelombang yang berbeda yakni pada panjang gelombang sinar X dan panjang gelombang optik berhasil menemukan quasar ganda yang terbentuk dari 2 galaksi yang sedang bergabung.

Citra optik quasar ganda. Kredit : John Mulchaey/Paul Green

Penemuan quasar ini juga merupakan bukti pertama dari keberadaan quasar ganda dalam galaksi yang sedag bergabung (merger). Quasar sendiri merupakan obyek yang sangat cerlang di area pusat galaksi yang melingkupi lubang hitam supermasif, dan quasar ganda merupakan pasangan quasar yang terikat satu sama lainnya akibat gravitasi. Sama seperti quasar lainnya, pasangan quasar ganda ini diperkirakan terbentuk akibat terjadinya penggabungan galaksi. Tapi memang sampai saat ini quasar ganda belum pernah terlihat apalagi terlihat di galaksi yang sedang dalam proses bergabung.

Hasil pengamatan quasar ganda tersebut terekam dalam citra yang diambil oleh John Mulchaey menggunakan teleskop Magellan milik Carniege Institute di Chille. Citra tersebut menunjukkan dua galaksi yang berbeda dengan ekor yang terbentuk dari gaya pasang surut akibat gravitasi di antara keduanya. Yang pasti ini merupakan kejadian langka bagi para astronom untuk dapat melihat dua galaksi berbeda, yang masing-masing galaksinya memiliki quasar sedang berinteraksi satu sama lainnya. Atau dengan kata lain melihat keduanya tengah bertabrakan dan bergabung. Kejadian langka ini juga akan memberi informasi yang sangat berharga bagi para pengamat di Bumi untuk dapat memahami proses penggabungan dua galaksi.

Bergabungnya Dua Galaksi
Walaupun tidak semuanya, namun pada umumnya galaksi – galaksi besar seperti halnya galaksi Bima Sakti memiliki lubang hitam masif di pusatnya. Dalam perjalanannya, galaksi secara tetap akan berinteraksi dan mengalami penggabungan dengan galaksi lainnya. Hal ini yang membuat para astronom berasumsi kalau lubang hitam supermasif ganda merupakan fenomena umum yang ada di alam semesta. Terutama di masa awal sejarah alam semesta.

Lubang hitam tersebut hanya bisa dideteksi sebagai quasar saat mereka sedang aktif mengakresi materi. Suatu proses yag melepaskan sejumlah besar energi. Salah satu teori yang dipercaya menyebutkan penggabungan galaksi ini yang memicu terjadinya akresi dan menciptakan quasar di kedua galaksi. Mengapa quasar ganda ini tak terlihat? Hal ini disebabkan oleh kejadian penggabungan galaksi lebih banyak terjadi di masa lalu sehingga quasar ganda dan galaksi yang terkait berada sangat jauh sehingga sulit bagi teleskop untuk bisa melihatnya.

SDSS J1254+0846 dalam sinar-X (biru), dan optik (kuning). Kredit : X-ray: NASA/CXC/SAO/Green et al Optik: Carnegie Obs/Magellan/Baade Telescope/Mulchaey et al

Quasar ganda yang diberi label SDSS J1254+0846 pada awalnya dideteksi oleh Sloan Digital Sky Survey, yang memang melakukan survei galaksi dan 120000 quasar. Pengamatan lanjutan kemudian dilakukan oleh Paul Green dan rekan-rekannya dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics dengan menggunakan Chandra X-ray Observatory dan teleskop di Kitt Peak National Observatory, Arizona serta teleskop di Palomar Observatory, California. Hasilnya di dapatkan indikasi obyek yang mirip dengan quasar ganda di tengah proses bergabungnya dua galaksi.

Benarkah Galaksi itu bergabung?
John Mulchaey juga melakukan pengamatan menggunakan teleskop Baade-Magellan 6,5 meter di observatorium Las Campanas, Chile untuk mendapatkan citra yang lebih dalam dan detil dari galaksi yang bergabung tersebut. Pengamatan tersebut jadi penting karena bisa saja ternyata kedua galaksi itu hanya berdekatan dan bukan saling bergabung. Dan ternyata hasil pengamatan Mulchaey menunjukkan keberadaan ekor dari masing-masing galaksi yang muncul akibat pasang surut keduanya. Bisa disimpulkan kalau kedua galaksi itu memang sedang berinteraksi dan dalam proses untuk bergabung.

Tak hanya itu. Thomas Cox dari Carnegie Observatories menguatkan hasil tersebut melalui simulasi yang ia kerjakan. Dalam simulasi penggabungan galaksi yang ia jalankan, tampak jejak yang mirip dengan citra yang diambil Mulchaey. Karena itu bisa dikatakan inilah pertama kalinya para pengamat bisa mengamati dan memotret galaksi yang sedang dalam proses bergabung.

Dan yang pasti, informasi yang didapat juga menjadi petunjuk kalau interaksi antar galaksi merupakan komponen penting dalam hal pertumbuhan lubang hitam dan terbentuknya quasar di alam semesta.

Sumber : Carnegie Institutr for Science

Mungkinkah matahari terbit dari barat

Investigasi lanjutan mengenai anomali-anomali 2012 tiba pada verifikasi ilmiah yang paling menggetarkan : Prediksi NASA bahwa dalam beberapa tahun ke depan ada kemungkinan terjadi perubahan kutub magnet bumi yang merupakan siklus ribuan tahun dari planet dan bintang.

Meski sulit dipercaya, sebagai contoh NASA mengatakan bahwa pada tahun 2001 bintang kita "matahari", telah mengalami perubahan kutub tersebut. Namun karena massa matahari relatif uniform dan kita tidak tinggal disana maka manusia relatif tidak merasakan perubahan ini.

Seperti kita ketahui bumi dapat diibaratkan sebutir telur dimana kulit telur adalah daratan dan lautan tempat kita berpijak, dan cairan telur adalah material vulkanis logam cair dan inti bumi adalah kuning telur yang merupakan logam padat bersuhu tinggi.

Dan inti bumi inilah yang memiliki medan magnet yang keluar dari kutub utara menuju kutub selatan yang dikenal dengan Sabuk Van Hallen. Medan magnet ini melindungi bumi dari sinar kosmis matahari yang memungkinkan kehidupan berjalan dengan normal.

Dalam beberapa dekade terakhir dinyatakan kutub utara telah bergeser dalam derajat yang signifikan, dan tidak ada yang bisa memastikan kapan terjadi pergeseran total kutub Utara menjadi kutub Selatan ini. Bisa dalam hitungan tahun, atau masih ratusan tahun lagi.

Bukan berarti bumi yang berputar balik, tapi karena inti bumi dan kerak bumi diisi oleh cairan, posisi inti dan keraklah yang sebenarnya berputar (Seperti kuning telur berputar didalam telur yang sedang diam).

Jadi apakah efeknya terhadap kehidupan di dunia ini? Satu hal yang bisa dipastikan adalah jarum kompas kita tidak akan lagi menunjuk ke arah utara namun mengikuti kutub magnet Utara yang sudah pindah di Selatan.

Cuma jarum kompas berubah arah? Mungkin saja. Worst scenarionya malah kemungkinan terjadi sedikit gangguan magnetik yang bisa merusak peralatan elektronik, satelit, pembangkit listrik atau piranti teknologi lainnya.

Ooh, jadi sebenarnya kita tidak perlu khawatir kan? Seperti prediksi badai matahari di tahun 2012, upaya pemerintah mungkin lebih kepada mitigasi terhadap kerusakan peralatan GPS dan sarana telekomunikasi.

Jadi benarkah kita tidak perlu khawatir? Coba dipikirkan lagi, apabila kutub magnetik Utara bumi ada di Selatan, darimanakah Matahari kita akan terbit?


Sumber :
timetotalks.blogspot.com

baday matahari

Film fiksi ilmiah '2012' yang menceritakan tentang terjadinya badai matahari (flare) bukan isapan jempol belaka. Flare diperkirakan akan terjadi antara tahun 2012-2015. Namun, tak serta merta hal itu melenyapkan peradaban dunia.

"Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari," ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (4/3/2010).

Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.

"Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia," imbuhnya.

Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.

"Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah," jelas Elly.

Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.

Lapan pun berniat mensosialisasikan dampak aktivitas matahari ini ke masyarakat. Sosialisasi Fenomena Cuaca Antariksa 2012-2015 pun akan digelar di Gedung Pasca Sarjana lantai 3, Universitas Udayana, Jl Jenderal Sudirman, Denpasar, Bali pada 9 Maret 2010 pukul 11.00 Wita.


Sumber :
Nograhany Widhi K - www.detiknews.com